Tampilkan postingan dengan label budidaya ikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label budidaya ikan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Maret 2013

PEMIJAHAN PADA IKAN



Proses pemijahan adalah proses yang ditujukan kepada suatu spesies dalam bentuk tingkahlaku melakukan perkawinan atau pembuahan ovum oleh sperma.
Secara umum pemijahan biota akuatik dibagi dalam beberapa tahapan yaitu proses matting, proses spawning, proses pasca spawning.

A. Berdasarkan sifatnya proses pemijahan dapat berlangsung secara alamiah dan buatan :
1.     Pemijahan Alami
Sepasang ataupun sekelumpok ikan yang siap memijah dan akan memijah ditaruh dalam suatu wadah kolam. Dan sudah tentu keadaan, salinitas, dan suhu sudah diatur agar sesuai dengan tempat pemijahan ikan itu yang sebenarnya. Dan saat pemijahan kolam biasanya ditutup, agar mengurai gangguan dalam pemijahan dan ikan lebih suka memijah pada tempat gelap dan hangat.
2.  Pemijahan Buatan
Pada pemijahan buatan, pembuahan telur oleh sperma dilakukan dengan bantuan manusia. Telur dipaksa keluar dari tubuh induk ikan betina dengan tehnik stripping/pengurutan kemudian ditampung pada suatu wadah. Lalu segera dilakukan stripping pada induk jantan untuk mengeluarkan sperma secara paksa. Telur dan sperma kemudian di satukan dalam satu wadah lalu diaduk dengan alat lembut dan halus seperti bulu ayam sehingga tercampur dan terjadi pembuahan.

B. Berdasarkan tehniknya, pemijahan ikan dapat dilakukan dengan 3 macam cara yaitu :
a. Pemijahan ikan secara alami, yaitu pemijahan ikan tanpa campur tangan manusia. Terjadi secara alamiah ( tanpa pemberian rangsangan hormon)
b. Pemijahan secara semi intensif, yaitu pemijahan ikan yang terjadi dengan memberikan rangsangan hormon untuk mempercepat  kematangan gonad, tapi proses ovulasinya terjadi secara alamiah di kolam.
c. Pemijahan ikan secara intensif, yaitu memberikan rangsangan hormon untuk mempercepat kematangan gonad serta ovulasinya dilakukan secara buatan dengan tehnik stripping/pengurutan.
Ada 3 komponen yang mempengaruhi proses reproduksi atau pemijahan pada ikan, yaitu gonad, sinyal lingkungan, dan sistem hormon dimana ketiga komponen itu saling mempengaruhi.
Fertilisasi
Fertilisasi eksternal: persatuan sperma dengan sel telur terjadi di luar tubuh
induk.Contoh: Cyprinidae, Anabantidae, Siluridae, dll.
Fertilisasi internal: sel telur bersatu dengan sperma di dalam tubuh induk).
Digunakan organ bantu pemijahan, spt: gonopodium, myxopteryangium, dan
tenaculum. Contoh: Elasmobranchii, Anablepidae, Poecilidae.

C. Berdasarkan habitat tempat ikan memijah:
Lithophil: memijah pada dasar perairan berbatu
Psamophil: memijah di dasar perairan berpasir
Pelagophil: memijah pada kolom air di perairan terbuka
Ostracophil: memijah pada cangkang binatang yang telah mati

D. Beradasarkan tempat embrio berkembang & tempat terjadinya pembuahan:
Ovipar: Ikan yang mengeluarkan telur saat pemijahan
Vivipar: Ikan yang melahirkan anaknya. Kandungan kuning telur sangat sedikit dan perkembangan embrio ditentukan oleh hubungannya dengan placenta pada tahap awal untuk mencukupi kebutuhan makanannya. Anak yang dilahirkan sudah menyerupai individu dewasa.
Ovovivipar:Ikan yang melahirkan anaknya. Sel telur mengandung cukup banyak kuning telur yang mencukupi kebutuhan makanan anak ikan. Induk ikan hanya menyediakan tempat perlindungan.
Contoh : Ikan Hiu Kebanyakan hiu adalah ovovivipar, yang berarti bahwa telur dierami dan menetas didalam oviduk tubuh induknya, dimana kuning telur (yolk) menjadi nutrisi utama embrio. Hiu ovovivipar disebut juga sebagai hiu aplacental vivipar yang berarti melahirkan tanpa plasenta (ari-ari). Hiu ovovivipar ini terbagi tiga tipe.

Perbedaan antara ikan vivipar dengan ikan ovovivipar terletak pada perkembangan telur yang dikandung dan keadaan anak-anaknya pada waktu dilahirkan.
Ikan vivipar dan ovovivipar biasanya berfekunditas kecil dan keturunannya mendapat semacam jaminan atau keyakinan dari induk untuk dapat melangsungkan awal hidupya dengan aman. Sedangkan pada ikan ovipar biasanya berfekunditas besar atau jumlah telur yang dikeluarkannya besar disebabkan untuk mengimbangi tekanan keadaan sekelilingnya dari hal yang tidak lazim terutama dari serangan predator. Hal ini menunjukkan bahwa ikan vivipar dan ovovivipar lebih modern dari pada ikan ovipar dalam mempertahankan eksistensi spesies. Dalam proses biologisnya yaitu pada waktu terjadi pemijahan, ikan ovipar lebih banyak mengeluarkan energi dari pada ikan vivipar dan ovovivipar.
Chondrichthyes ovipar: bagian depan jaringan oviduct dimodifikasi menjadi kelenjar cangkang (shell gland)
Pada ovovivipar dan vivipar: bagian belakang oviduk membesar menjadi suatu uterus tempat menyimpan anak ikan selama perkembangan embrioniknya.

Fase Pendederan Ikan Lele



Tahap pendederan merupakan fase adaptasi ikan hasil peminjahan dengan lingkungan sebelum dipindahkan ke kolam pemeliharaan berikutnya (kolam pembesaran). Pendederan dibedakan menjadi 3 tahap pendedaran.
Pendederan I dimaksudkan untuk membesarkan bibit lele berukuran 1-3 cm menjadi bibit berukuran 3-5 cm. Dengan perawatan intensif, terutama dalam hal pemberian pakan, pengaturan air, serta pengendalian hama dan penyakit, masa Pendederan I hanya membutuhkan waktu 2-3 minggu.
Pendederan II merupakan kelanjutan dari Pendederan I, yang mana bibit berukuran 3-5 cm dipelihara hingga mencapai ukuran 5-8 cm. Seperti halnya pada Pendederan I, faktor terpenting pendukung keberhasilan pendederan ini adalah pengaturan air, pemberian pakan, serta pengendalian hama dan penyakit. Pendederan II berlangsung selama 3-4 minggu dan dilakukan seleksi panen 3 (tiga) kali, yaitu pada minggu ke-3, minggu ke-3,5 dan minggu ke-4.
Pendederan III pada prinsipnya adalah membesarkan bibit berukuran 5-8 cm menjadi bibit berukuran 8-12 cm. Bibit dengan ukuran 8-12 cm merupakan bibit yang paling optimal untuk pembesaran. Pendederan III dilakukan selama 3 minggu.

Cara Budidaya Lele | Pendederan I 

Pendederan I dimaksudkan untuk membesarkan bibit lele berukuran 1-3 cm menjadi bibit berukuran 3-5 cm. Dengan perawatan intensif, terutama dalam hal pemberian pakan, pengaturan air, serta pengendalian hama dan penyakit, masa Pendederan I hanya membutuhkan waktu 2-3 minggu.
1. Pelepasan Bibit
Bibit yang dipelihara dalam Pendederan I berukuran sangat kecil, rentan stres, dan cidera, sehingga pelepasannya harus dilakukan secara hati-hati. Yang penting untuk diperhatikan adalah kepadatan bibit, yaitu antara 500-750 ekor/m2. Itu berarti kolam berukuran 2 x 3 m (6m2) dapat diisi 3000-4500 bibit lele.
Untuk menghindari stres dan cidera, pelepasan bibit lele dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1.      Bibit lele diambil dari kolam pemeliharaan larva dengan menggunakan waring bertangkai dengan jaring yang rapat dan lembut.
2.     Bibit ditempatkan pada ember atau baskom yang telah diisi air dari kolam pemeliharaan larva.
3.     Setelah ember atau baskom cukup penuh, segeralah menuju kolam pendederan untuk melepaskannya. Benamkan ember atau baskom ke kolam sehingga air kolam masuk sedikit demi sedikit, bercampur dengan air dalam ember. Dengan cara itu maka bibit akan dapat berenang keluar ember atau baskom. Angkat emmber atau baskom dengan posisi miring ke bawah sehingga semua air beserta bibitnya masuk dalam kolam.
4.     Teruskan langkah tersebut hingga kolam pendederan terisi bibit dengan kepadatan yang sesuai.
Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah waktu pemindahan dan pelepasan bibit. Untuk menghindari stres yang berlebihan, bibit sebaiknya dipindahkan pada saat suhu air belum terlalu tinggi atau terlalu rendah, yaitu pada pagi atau sore hari. Pada pagi hari, sebaiknya pemindahan dilakukan pada pukul 08.00-10.00. sedangkan pada sore hari, pemindahan sebaiknya dilakukan pada pukul 15.00-18.00.
2. Pengaturan Air
Kualitas air yang digunakan untuk memelihara ikan pada masa Pendederan I sangat berpengaruh terhadap perkembangan dan kesehatan ikan. Air kolam harus dijaga sedemikian rupa sehingga tetap bersih. Penggunaan air mengalir dengan sistem pipa paralon adalah yang paling baik dan efektif karena air kolam yang keluar langsung diganti dengan air yang bersih. Apabila kolam belum dilengkapi pipa untuk keluar masuk air, air harus diganti secara manual 2-3 hari sekali, atau sesuai kebutuhan.
Untungnya, pada kolam Pendederan I kualitas air masih akan cukup baik dalam waktu yang sukup lama karena ukuran ikan peliharaan masih sangat kecil dengan jumlah kotoran yang juga masih sedikit. Selain itu, pakan yang diberikan pun pakan alami yang tidak menyebabkan penurunan kualitas air.
3. Pemberian Pakan
Bibit berukuran 1-3 cm tentu saja belum dapat makan pelet butiran. Pakan yang diberikan kepada bibit lele ini harus mengandung cukup banyak protein untuk mendukung pertumbuhannya. Selama minggu pertama, bibit hanya diberi pakan alami berupa kutu air (Daphnia sp.) dan cacing sutra (Tubifex sp.). Baru pada minggu kedua bibit lele  mulai diberi pellet 581. Pellet ini berbentuk seperti tepung.
Prinsip pemberian pakan untul bibit lele adalah sebagai berikut:
1.      Pakan alami diberikan dalam keadaan hidup agar apabila belum termakan maka akan dapat dimakan pada waktu berikutnya.
2.     Pakan alami diberikan sedikit demi sedikit hingga bibit lele  kenyang. Caranya, dengan memasukkan kutu air atau cacing sutra sesendok demi sesendok hingga tidak ada lagi bibit lele yang mau memakannya.
3.     Pakan diberikan 3-4 kali sehari, yaitu pagi, siang (bila mungkin), sore, dan malam hari.
4.     Seiring dengan diberikannya makanan berupa pelet, jumlah pakan alami mulai dikurangi. Misalnya, untuk minggu ke-2 kombinasi 75% pakan alami dan 25% pelet, untuk minggu ke-3 kombinasi 5-% pakan alami dan 50% pelet.
4. Pengendalian Hama dan Penyakit
Selain menjaga kualitas air dan memberi pakan, pembudi daya lele juga harus mencegah masuknya hama dan panyakit. Hama yang sering memakan bibit lele antara lain ular, burung pemakan ikan, kadal, dan katak. Bilamana hama tersebut berhasil masuk ke dalam kolam maka dapat dipastikan akan ada banyak bibit yang hilang.
Untuk mencegah ular, burung, kadal dan katak masuk ke dalam kolam, tutuplah kolam dengan anyaman bambu. Bila hama telah terlanjur masuk, segera keluarkan atau basmi secepatnya.
Pencegahan munculnya penyakit dilakukan dengan menjaga kebersihan air kolam. Pengaturan air yang baik dapat mencegah munculnya penyakit. Penambahan sedikit kapur pertanian juga membantu. Apabila bibit lele sangkurinang menunjukan tanda-tanda terserang penyakit terutama jamur, teteskan Malachite Green Oxalite 1-5 ml atau Methylene Blue 10 ml per 1 meter kubik air.
5. Seleksi Bibit
Bibit yang telah dipelihara selama 2,5 minggu akan diseleksi untuk yang pertama kali dengan menggunakan ayakan bibit ukuran 3-5 cm. Bibit-bibit yang telah mencapai ukuran 3-5 cm dapat dipanen untuk dibesarkan pada Pendederan II, atau  bahkan dapat langsung dijual. Bibit lele yang didapat dari seleksi pertama disebut Bibir Saringan I. Bibit ini merupakan bibit berkualitas tinggi karena memiliki keceptatan pertumbuhan yang baik.
Seleksi yang kedua dilakukan pada saat bibit telah dipelihara selama 3 minggu. Bibit yang diperoleh disebut Bibit Saringan II. Kualitas bibit ini sedikit dibawah bibit saringan pertama. Bibit yang tidak lolos seleksi pertama dan kedua merupakan bibit sisa. Bibit ini dapat terus dibesarkan hingga mencapai 3-5 cm. kualitas bibit sisa ini tidak begitu baik.

Cara Budidaya Lele | Pendederan II

Pendederan II merupakan kelanjutan dari Pendederan I, yang mana bibit berukuran 3-5 cm dipelihara hingga mencapai ukuran 5-8 cm. Seperti halnya pada Pendederan I, faktor terpenting pendukung keberhasilan pendederan ini adalah pengaturan air, pemberian pakan, serta pengendalian hama dan penyakit. Pendederan II berlangsung selama 3-4 minggu dan dilakukan seleksi panen 3 (tiga) kali, yaitu pada minggu ke-3, minggu ke-3,5 dan minggu ke-4.
1. Pelepasan Benih
Ukuran bibit yang dipeliharan pada Pendederan II dua kali lebih besar dari bibit pada Pendederan I. Oleh karena itu, kepadatan bibit harus dikurangi sampai setengah dari kepadatan Pendederan I, yaitu antara 250-500 ekor/m2. Untuk kolam berukuran 2 x 3 m (6m2) dapat diisi 1500-3000 bibit. Metode pemindahan dan pelepasan bibit pada kolam Pendederan II tidak berbeda dengan yang dilakukan pada Pendederan I.
2. Pengaturan Air
Pengaturan air pada Pendederan II masih harus diperhatikan meskipun tidak seintensif pada Pendederan I. Penggantian air dilakukan 2-3 hari sekali. Air kolam yang lama tidak diganti akan tercemar sisa makanan dan kotoran ikan. Sisa makanan itu akan membusuk dan mengeluarkan asam organik yang akan mengganggu pertumbuhan bibit dan merangsang munculnya penyakit.
3. Pemberian Pakan
Pada minggu ke-1 masa Pendederan II, pakan yang diberikan berupa pakan alami dan pelet tepung (581). Jumlah pakan yang diberikan per hari adalah 10-15% dari bobot total bibit yang dipelihara, terdiri dari 25% pakan alami dan 75% pelet yang dilembutkan. Pada minggu ke-2, pakan yang diberikan adalah pelet tepung seluruhnya. Pada minggu ke-3 dan ke-4 dapat dimulai menggunakan pelet butiran dengan diameter ±1 mm (pelet 999). Pemberian pakan dilakukan tiga kali sehari, yaitu pada pagi, siang, dan sore hari.
4. Pengendalian Hama dan Penyakit
Dengan semakin besarnya ukuran bibit lele maka semakin berkurangnya jumlah hama yang berbahaya baginya. Hama yang masih perlu diwaspadai adalah ular dan burung pemakan ikan. Cara pencegahannya sama seperti pada Pendederan I, yaitu dengan menutup kolam menggunakan anyaman bambu atau yang lain. Sedangkan untuk mengendalikan penyakit, penggantian air secara rutin merupakan cara terbaik, selain menggunakan Malachite Green Qxalite (1-5 ml/m3) atau Methylene Blue (10 ml/m3).
5. Seleksi Bibit
Bibit lele mulai diseleksi pada minggu ke-3 dengan menggunakan saringan bibit 5-8 cm. Bibit lele yang berukuran 5-8 cm dapat diambil untuk dibesarkan pada Pendederan III atau langsung dijual. Bibit yang didapat dalam seleksi pertama disebut Bibit Saringan I, merupakan bibit berkualitas terbaik. Seleksi bibit dilakukan lagi 3-4 hari kemudian, diperoleh Bibit Saringan II. Seleksi terakhir dilakukan pada minggu ke-4, diperoleh Bibit Saringan III. Baik bibit saringan II maupun III juga merupakan bibit berkualitas baik dan memenuhi standar.
Bibit lele yang tidak lolos seleksi dapat terus dipelihara hingga berukuran 5-8 cm. Bibit ini tidak memenuhi standar sebagai bibit lele. Biasanya bibit itu disebut sebagai bibit lele dumbo biasa, bukan bibit lele.

Pendederan III Budidaya Lele

Pendederan III merupakan kelanjutan dari Pendederan II. Tidak banyak pembibitan lele yang melaksanakan Pendederan III, karena begitu melewati  Pendederan II sudah banyak konsumen yang berminat untuk membeli bibit lele tersebut. Bahkan akhir-akhir ini konsumen tidak cukup sabar untuk menanti  bibit hingga berukuran 5-8 cm. Bibit berukuran 3-5 cm pun sudah banyak yang memintanya.
Pendederan III pada prinsipnya adalah membesarkan bibit berukuran 5-8 cm menjadi bibit berukuran 8-12 cm. Bibit dengan ukuran 8-12 cm merupakan bibit yang paling optimal untuk pembesaran. Pendederan III dilakukan selama 3 minggu.
1. Pelepasan Bibit
Kepadatan  bibit pada Pendederan III lebih rendah dibanding Pendederan II, karena ukuran bibit yang digunakan lebih besar. Jumlah bibit yang dilepas pada kolam Pendederan III adalah antara 100-200 ekor/m2. Metode pemindahan dan pelepasan bibit sama dengan pada Pendederan I dan II.
2. Pengaturan Air
Pengaturan air pada Pendederan III tidak seintensif Pendederan I dan II, namun tetap harus mendapat perhatian. Penggantian air dilakukan apabila air kolam sudah kotor. Jadi tidak harus dilakukan secara rutin. Lebih baik lagi apabila menggunakan sistem air keluar masuk sehingga kesegaran dan kebersihan air tetap terjaga. Meskipun tidak seketat Pendederan I dan II, namun usahakan agar tidak ada sisa makanan dan kotoran yang mengendap dan membusuk di dasar kolam karena hal itu dapat menghambat pertumbuhan ikan dan merangsang munculnya penyakit.
3. Pemberian Pakan
Pakan yang diberikan berupa pelet yang dikecilkan ukurannya hingga berdiameter 1-3 mm (pelet 999, 781 – 1, dan 782 – 2). Jumlah pakan yang diberikan sebanyak 5-10% bobot bibit yang dipelihara. Pakan diberikan 3 (tiga) kali sehari, yaitu pada pagi, siang, dan sore hari.
Terkadang bibit lele sangat rakus, makan terlalu banyak. Padahal pelet dapat mengembang selama ada didalam perut ikan. Akibatnya, bibit mengalami kembung dan pecah perut. Untuk mencegahnya, rendam pelet dalam air hangat hingga mengembang dan baru setelah itu diberikan kepada ikan. Dengan cara demikian pelet tidak akan mengembang lagi, dan kembung tidak akan terjadi.
4. Pengendalian Hama dan Penyakit
Seperti halnya pada Pendederan II, hama yang mengancam adalah ular dan burung pemakan ikan. Cara pengendaliannya masih sama, yaitu dengan menutup kolam menggunakan anyaman bambu atau yang lain. Serangan penyakit dapat dikendalikan dengan memelihara kebersihan air. Jika terdapat tanda-tanda ikan terserang penyakit, terutama jamur, berikan Malachite Green Oxalite atau Methylene Blue.
5. Seleksi Bibit
Bibit yang dibesarkan pada Pendederan III dapat diseleksi mulai minggu ke-2 untuk mendapatkan bibit dengan ukuran yang sesuai (8-12 cm). Sisa bibit yang tidak lolos seleksi pertama, diseleksi lagi pada minggu ke-3. Sisa bibit yang tidak lolos seleksi kedua dapat terus dipelihara hingga mencapai ukuran yang disyaratkan, atau langsung dijual.
Pembesaran Ikan Lele
Pembesaran merupakan tahapan terpenting dalam budidaya lele. Tahap inilah yang paling banyak dilakukan oleh peternak lele karena tingkat keuntungannya lebih besar. Namun demikian, pembesaran juga merupakan tahapan yang memakan biaya paling besar, terutama untuk memenuhi kebutuhan pakan. Oleh sebab itu, terutama untuk memenuhi kebutuhan pakan. Oleh sebab itu, pembesaran lele harus dilakukan seoptimal mungkin agar dapat menghemat biaya pakan dan pemborosan dapat dihindari.
Pada prinsipnya, tahap pembesaran merupakan usaha untuk membesarkan bibit menjadi lele ukuran konsumsi, sekitar 100–150 gram / ekor atau 7–10 ekor / kg. Kecepatan lele dalam mencapai ukuran konsumsi merupakan kunci untuk mendapatkan keuntungan. Keistimewaan lele sangkuriang adalah kecepatannya dalam mencapai ukuran konsumsi yang berada di atas lele dumbo biasa. Dalam waktu 60–70 hari, dari bibit berukuran 3-5 cm, lele sangkuriang sudah mampu mencapai ukuran konsumsi. Hal itu jauh lebih cepat dibanding lele dumbo biasa yang memakan waktu hingga 100-110 hari.
Agar dapat menghasilkan lele siap konsumsi dalam waktu yang diharapkan maka diperlukan penangan budidaya yang tepat. Penyebabnya, meskipun lele memilik sifat genetis yang cepat berkembang, namun apabila teknik budidayanya salah, maka tidak tertutup kemungkinan waktu pembesaran justru menjadi lebih lama dibanding lele dumbo biasa. Selanjutnya akan dibahas mengenai teknik pembesaran lele secara detail yaitu mengenai persiapan kolam pembesaran, cara mendapatkan bibit lele, pemeliharaan lele, manajemen pakan, dan memanen lele.


Teknik pemijahan Ikan Lele (sederhana, semi intensif dan intensif)



Untuk mendapatkan bibit lele yang baik, pemijahannya harus dilakukan dengan tepat dan teliti, dan dengan efisiensi waktu yang tinggi sehingga tidak menghambat pemijahan berikutnya. Secara umum terdapat tiga teknik pemijahan, yaitu teknik pemijahan sederhana (konvensional), teknik pemijahan semi-intensif, serta teknik pemijahan intensif.
Perbedaan antara teknik pemijahan sederhana dengan teknik pemijahan intensif dan semi-intesif adalah dengan penggunaan hipofisa atau HCG untuk merangsang kematangan gonad. Sedangkan perbedaan teknik pemijahan intensif dengan teknik pemijahan sederhana dan semi-intensif terletak pada metode pengeluaran sel-telur dan sperma, yang mana pada teknik pemijahan intensif, telur dikeluarkan secara ‘paksa’.

A. Cara Budidaya Lele | Teknik Pemijahan Sederhana pada Lele Sangkuriang (Sukabumi) 

1. Persiapan Induk
Induk yang digunakan untuk mendapatkan bibit lele sangkuriang merupakan induk jantan generasi keenam(F6) dan induk betina generasi kedua (F2), bukan berasal dari lele sangkuriang. Indukan lele sangkuriang sebenanya sudah dapat dipijahkan saat berumur 8-9 bulan, namun produksi telur yang baik baru dapat diperoleh saat lele sudah berumur di atas 1 tahun. Indukan telah siap dipijahkan lagi setelah 2-3 bulan setelah pemijahan sebelumnya.
Sebelum dipijahkan, induk jantan dan induk betina ditempatkan secara terpisah dalam kolam induk berukuran 1 x 1 x 1 meter untuk setiap 1 kg induk. Akan lebih baik apabila air yang digunakan untuk kolam induk jantan dan kolam induk betina itu sama dengan air yang mengalir dari kolam induk jantan ke kolam induk betina. Tujuannya adalaha untuk merangsan kemauan kawin dari induk betina.
Pakan yang diberikan kepada calon induk adalah pakan yang mengandung cukup banyak protein. Kombinasi pakan yang tepat adalah pelet (25%) dan makanan tambahan berprotein tinggi lain (75%), misalnya ikan kecil, daging keong, daging bekicot, dan sebagainya. Jumlah pakan yang diberikan per hari adalah 3-5% dari bobot calon induk yang dipelihara. Misalnya, bila bobot calon induk 20 kg, kebutuhan pakan per hari adalah 600-1000 gram, terdiri dari 150-250 gram pelet dan ditambah 450-750 gram makanan tambahan.
Untuk mengetahui apakah indukan sudah siap dipijahkan atau belum, perlu diketahui ciri-cirinya. Induk betina yang sudah siap dipijahkan memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1.      Induk betina menjadi lebih jinak dan pergerakannya menjadi lebih lambat sehingga lebih mudah ditangkap.
2.     Bagian perut hingga anus tampak membesar, yang bila dipegang akan terasa lembek.
3.     Lubang kelamin tampak membesar dan berwarna kemerahan.
4.     Jika perut diurut (stripping) ke arah anus makan akan keluar telur yang berwarna kekuningan.
Induk jantan yang siap dipijahkan juga menunjukan ciri-ciri khusus, yaitu:
1.      Pergerakannya sangat lincah dan agresif sehingga lebih sulit ditangkap.
2.     Tubuhnya menjadi lebih ramping dengan warna agak kemerah-merahan.
3.     Alat kelaminnya semakin menonjol sehingga terlihat lebih jelas.
4.     Jika bagian perut diurut (stripping) mengarah ke anus maka akan keluar cairan putih kental (cairan semen).
Teknik pemijahan konvensional mengandalkan kesiapan induk untuk memijah. Sayangnya, terkadang induk tidak menunjukan tanda-tanda akan memijah. Untuk merangsang agar induk siap memijah adalah dengan menggunakan telur bebek atau ayam. Isi telur dilarutkan dalam air hingga merata dan kemudian dimasukkan ke kolam, diaduk-aduk hingga benar-benar larut. Akibatnya, kolam akan menjadi amis. Hal itu akan merangsang induk untuk memijah.
1.    Persiapan Kolam Pemijahan
Kolam pemijahan dapat berupa kolam tembok ataupun kolam terpal. Ukuran kolam tidak perlu besar, cuku 2 x 2 m untuk sepasang induk. Ketinggian kolam minimal 0.6 m, diisi air setinggi 30-50 cm. untuk mencegah induk melompat keluar kolam, bagian atas kolam diberi penutup dari anyaman bambu atau anyaman daun kelapa.
Air yang digunakan untuk memijahkan sebaiknya air sumur atau air sungai yang belum tercemar. Jangan menggunakan air hujan atau air PDAM. Untuk tempat menempelnya telur, di dasar bak pemijahan dipasang kakaban atau anyaman ijuk. Kakaban sebaiknya dapat menutup seluruh dasar kolam untuk memastikan bahwa semua telur dapat menempel pada kakaban. Kakaban dipasang mendatar pada dasar kolam.
2.    Pelepasan Induk pada Kolam Pemijahan
Induk yang telah siap dipijahkan segera dipindah ke kolam pemijahan. Pemindahan dilakukan dengan hati-hati agar ikan tidak mengalami stres, terutama induk jantan. Bila siap pijah maka induk jantan akan semakin lincah dan agresif, sementara induk betina semakin lamban dan kurang lincah sehingga lebih mudah untuk dipindahkan.
Induk dimasukkan ke dalam kolam pemijhan sebelum pukul 18.00. Lebih awal lebih baik. Hal ini dilakukan agar induk jantan dan induk betina dapat ‘saling mengenal’ terlebih dahulu. Induk jantan akan terus mengejar induk betina. Apabila dimasukkan siang hari, induk biasanya akan terlebih dahulu istirahat sebelum melakukan proses ‘pengenalan’. Pengamatan terhadap perilaku indukan menunjukan bahwa meskipun indukan dimasukkan lebih awal, namun proses pemijahan tetap akan terjadi pada waktu yang sama.
Setiap kolam pemijahan hanya boleh diisi sepasang induk yang sudah siap pijah. Apabila induk yang dimasukkan lebih dari sepasang maka akan terjadi pertarungan yang justru akan menyebabkan gagalnya proses pemijahan.
3.    Pemijahan
Teknik pemijahan konvensional mengandalkan pemijahan alami yang dilakukan induk jantan dan induk betina. Biasanya lele berpijah pada malam hingga pagi, berlangsung antara pukul 22.00 hingga pukul 05.00 pagi. Proses pemijahan sebenarnya sangat sederhana. Yaitu induk betiina mengeluarkan telur dan induk jantan mengeluarkan sperma. Telur dibuahi oleh sperma di luar tubuh, sehingga kemudian disebut sebagai pembuahan luar. Telur yang berhasil dibuahi akan berwarna bening agak kekuningan, sedangkan telur yang tidak berhasil dibuahi akan menjadi berwarna putih.
Pemijahan secara konvensional memiliki kelemahan, antara lain waktu pemijahan dan keberhasilannya yang tidak terjamin. Seringkali pemijahan harus menunggu beberapa hari baru berhasil, bahkan kadang tidak membawa hasil sama sekali.
Keberhasilan pemijahan konvensional sangat dipengaruhi oleh kondiisi indukan dan lingkungan. Indukan harus benar-benar dalam kondisi siap memijah dan lingkungan (air dan kolam) yang digunakan juga harus benar-benar sesuai.
4.    Penetasan telur
Setelah menjalani pemijahan, induk segera diambil dari kolam agar tidak memakan telurnya sendiri. Telur dapat ditetaskan di dalam kolam pemijahan atau dipindahkan ke kolam penetasan yang berukuran lebih besar. Apabila dibiarkan tetap berada pada kolam pemijahan, sebaiknya airnya diganti dengan yang baru. Apabila telur dipindahkan ke kolam yang baru, gunakan kolam penetasan dengan ukuan yang lebih luas, yaitu 2 x 3 m, 2 x 4 m, atau 3 x 3 m, sesuai jumlah telur yang terdapat pada kakaban.
Kakaban yang telah berisi telur, baik yang dipidahkan ke kolam baru maupun yang tetap dibiarkan di kolam pemijahan, kemudian dibalik. Telur yang semula berada di bagian atas kakaban kemudian diletakkan di bagian bawah kakaban. Di bawah kakaban diletakkan ikatan ijuk sebesar bungkus rokok, 2-5 buah, atau dapat pula menggunakan genteng. Fungsinya adalah sebagai tempat berkumpulnya larva yang baru menetas, agar larva jangan sampai terbawa saat kakaban diambil.
Telur akan menetas 24-36 jam setelah pembuahan. Kecepatan penetasasn telur dipengaruhi oleh suhu air. Apabila suhu air cukup hangat (26-28oC), telur akan menetas lebih cepat. Setelah 36 jam, kakaban segera diambil dari kolam penetasan. Warna telur yang tidak menetas akan berubah menjadi kuning pucat, terkadang berjamur.
5.    Pemeliharaan larva
Setelah menetas, larva tetap dipelihara di kolam penetasan . Pemeliharaan larva harus dilakukan secara teliti dengan memperhatikan kondisi air dan ketersediaan pakan. Air dalam kolam pemeliharaan larva harus terjaga kualitasnya. Setidaknya setiap 2-3 hari sekali harus diganti. Untuk mengganti air tidak boleh dilakukan dengan membuka kran saluran pembuangan, karena larva mungkin akan terbawa arus air keluar dari kolam. Penggantian air dilakukan dengan menciduknya sedikit demi sedikit dan kemudian dituangi sedikit demi sedikit pula. Memang lebih sulit, namun dengan cara itu kehilangan larva dapat ditekan.
Hingga hari ke-3, larva belum perlu diberi pakan karena larva masih memakan sisa-sisa makanan dari telurya. Selain itu, larva juga belum cukup kuat untuk makan makanan dari luar. Pada hari ke-4 dan seterusnya, larva mulai diberi pakan alami yang berukuran kecil. Beberapa jenis pakan yang dianjurkan untuk digunakan antara lain adalah kutu air, cacing sutra, dan cacing darah. Apabila tidak ada, pelet tepung juga dapat diberikan. Kelemahannya, tidak semua pelet yang diberikan akan habis dimakan oleh larva sehingga akan menyebabkan kolam menjadi cepat kotor. Selain itu, larva yang hanya diberi tepung pelet juga tidak akan dapat tumbuh secepat apabila diberi pakan alami.
Hal penting lain yang perlu dilakukan adalah menutup kolam pemeliharaan larva dengan anyaman bambu, anyaman daun kelapa, atau benda lain yang dapat menutupi kolam. Tujuannya untuk mencegah masuknya binatang yang dapat memakan larva lele, seperti katak, ular, kadal, dan sebagainya. Sekali binatang itu masuk ke kolam, cukup banyak larva yang akan dimakannya.

B. Cara Budidaya Lele | Teknik Pemijahan Semi-Intensif

1. Persiapan Induk

Persiapan induk yang akan dipijahkan dengan teknik semi-intensif tidak berbeda dengan induk yang dipijahkan secara konvensional. Induk ditempatkan dalam kolam induk berukuran 1 x 1 x 1 m, dengan induk jantan dan induk betina diletakkan secara terpisah. Induk diberi pakan yang banyak mengandung protein agar telur dan sperma yang dihasilkan lebih banyak.
2. Persiapan Kolam Pemijahan
Teknik pemijahan semi-intensif masih mengandalkan pembuahan alami (natural spawning) seperti halnya pada teknik pemijahan kolam konvensional. Ukuran kolam yang digunakan juga tidak jauh berbeda, yaitu 2 x 2 m untuk setiap pasang induk. Tinggi kolam sekitar 0,6 m, diisi air setinggi 30-50 cm. untuk mencegah induk melompat keluar saat berkejar-kejaran, kolam pemijahan ditutup anyaman bambu, anyaman daun kelapa, tripleks, ataupun bahan lain. Bagian dasar kolam diberi kakaban yang terbuat dari ijuk untuk menempelkan telur.
Kolam pemijahan dapat dibuat dari tembok maupun terpal. Kolam tembok yang masih baru sebaiknya tidak langsung dipakai. Sebaiknya kolam itu diisi air dan kemudian ke dalamnya dimasukkan potongan-potongan batang pisang yang kemudian dibiarkan hingga membusuk. Potongan batang pisang itu akan menyerap racun dari bahan-bahan pembuat tembok, terutama semen. Setelah itu, kolam dicuci hingga bersih sehingga siap digunakan.
Untuk kolam yang terbuat dari terpal, bila akan menggunakan terpal baru maka sebaiknya terpal direndam air terlebih dahulu dan kemudian dijemur. Tujuannya adalah untuk menghilangkan senyawa berbahaya dan bibit penyakit yang mungkin terdapat pada terpal.
3. Penyuntikan Induk dengan Hipofisa/HCG
Perbedaan teknik pemijahan konvensional dengan teknik pemijahan semi-intesif adalah pada penggunaan kelenjar hipofisa atau hormon Human Chlorionic Gonadotropin (HCG). Kelenjar hipofisa atau HCG digunakan untuk merangsang kematangan gonad sehingga induk lele sangkuriang siap memijah pada waktu yang ditentukan.
Kelenjar Hipofisa
Kelenjar hipofisa yang digunakan dapat berasal dari ikan lele ataupun ikan mas donor. Ikan donor yang digunakan harus memiliki bobot yang kurang lebih sama dengan ikan resipien (Ikan yang diberi donor). Cara pengambilan dan penyuntikan kelenjar hipofisa adalah sebagai berikut:
  • Ikan donor ditimbang dahulu untuk mengetahui apakah ikan itu memiliki bobot yang hampir sama dengan induk lele sangkuriang. Bila ya, potong ikan tepat pada batas antara kepala dan badan.
  • Kepala ikan dibelah mendatar mulai dari mulut sehingga kepala terbelah menjadi dua. Ambil bagian atasnya dan bersihkan dari darah dan lender.
  • Dengan hati-hati buka bagian yang menutupi kelenjar hipofisa dengan menggunakan pinset (penjepit) dan pisau stainless tajam. Kelenjar hipofisa berbentuk bulatan-bulatan kecil berwarna putih kemerah-merahan.
  • Ambil kelenjar hipofisa itu kemudian hancurkan di dalam tabung reaksi. Jika tidak ada tabung reaksi, gunakan gelas kecil. Tambahkan akuades atau akuabides (dapat dibeli di apotik) sebanyak 1-2 ml (kira-kira ¾ sendok teh), aduk-aduk hingga rata. Agar larutan lebih merata, sebaiknya diaduk menggunakan sentrifugal (bila ada)
  • Ambil larutan hipofisa menggunakan alat suntik berukuran kecil (5 ml) lalu suntikkan pada bagian punggung ikan indukan.
  • Dosis pemberian larutan hipofisa yang terbaik adalah 1 bagian untuk induk betina dan ½ bagian untuk induk jantan. Satu bagian berarti seluruh hipofisa yang berasal dari ikan donor dengan bobot sama dengan induk. Namun, bila tidak memungkinkan, dosis dapat diturunkan menjadi ½ bagian unutk induk betina dan ½ bagian untuk induk jantan.
  • Ikan yang sudah disuntik kemudian dilepaskan kembali pada kolam induk.
Hormon HCG
Pada prinsipnya hormon HCG memiliki fungsi yang sama denga kelenjar hipofisa. Salah satu jenis hormon HCG yang banyak digunakan pada ikan lele adalah Ovaprim. Dosis pengunaan ovaprim adalah 0,5 ml/kg bobot ikan. Misalnya ikan dengan bobot 700 gram, dosis yang diberikan adalah 0,7 kg x 0,5 ml/kg, atau sama dengan 0,35 ml. penyuntikan ovaprim sama dengan penyuntikan hipofisa, yaitu pada bagian punggung yang berdaging tebal.
Penggunaan ovaprim cukup sulit karena dosisnya yang terlalu sedikit. Oleh sebab itu kemudian dilarutkan dengan larutan Natrium Cholrida 0,9 %, akuades, atau akuabides. Misal, untuk induk dengan bobot total 10 kg yang terdiri 12 induk, diperlukan ovaprim sebanyak 0,5 ml/kg x 10 kh = 5 ml. Untuk setiap kilogram induk diperlukan cairan campuran sebanyak 4 ml, berarti diperlukan 4 ml/kg x 10 kg = 40 ml. maka jumlah NaCl 0,9%/akuades/akuabides yang dibutuhkan adalah 40-5ml = 35 ml. Jadi untuk induk dengan bobot total 10 kg diperlukan ovaprim sebanyak 5 ml dan NaCl 0,9%, akuades atau akuabides 36 ml.
Pada hari ke-4 dan seterusnya, larva diberi pakan berukuran kecil, misalnya cacing sutra (Tubifex sp.) atau kuku air (Daphnia sp.). Pakan ini terus diberikan hingga larva mencapai ukuran tahap pendederan,sekitar 2-3 cm.

C. Cara Budidaya Lele | Teknik Pemijahan Intesif

1. Persiapan Induk

Teknik pemijahan intensif sebaiknya dilakukan terhadap induk betina yang telah memiliki kedewasaan optimal (umur sudah lebih dari 18 bulan) dan memiliki ukuran yang cukup besar. Dengan teknik pemijahan ini, ikan tidak akan menjalani pembuahan alami, tetapi pemijahan akan dilakukan secara buatan. Induk betina yang akan dipijahkan setidaknya pernah dipijahkan selama 2 bulan terakhir. Sementara untuk induk jantan, persyaratannya tidak berbeda dengan persyaratan induk untuk pemijahan alami.
Induk lele, terutama yang betina, dipersiapkan terlebih dahulu dengan menempatkannya pada kolam induk. Induk jantan dan induk betina dipisahkan. Pemberian pakan terhadap induk betina dilakukan secara lebih intensif agar kondisinya dapat mencapai titik optimal. Pakan yang diberikan dapat berupa pelet sebagai pakan utama, dan pakan tambahan berupa daging keong mas, bekicot, cacing tanah, atau sisa-sisa makanan.
2. Persiapan Kolam Penetasan
Pada teknik pemijahan intensif, telur dapat ditempatkan pada kolam penetasan seperti  pada teknik konvensional dan semi-intesif. Bedanya, tidak diperlukan kakaban atau ijuk. Ukuran kolam penetasan juga sama, yaitu sekitar 2 x 3 m, 2 x 4 m, atau 3 x 3 m. Ketinggian kolam sekitar 60 cm, diisi air setinggi 30-40 cm.
3. Penyuntikan Induk dengan Hipofisa/HCG
Induk yang sudah memenuhi syarat segera disuntikan dengan kelenjar hipofisa atau HCG (ovaprim). Metode penyuntikannya sama dengan metode pemijahan konvensional. Induk yang disuntik tidak perlu yang benar-benar telah siap memijah, karena dengan menyuntikanya menggunakan hipofisa maupun ovaprim, hal kematangan gonad akan terjadi dengan cepat sehingga induk segera siap memijah. Setelah disuntik, induk kembali dilepaskan ke kolam induk.
4. Stripping dan Pembuahan Telur
Proses strpping pada induk betina dapat dilakukan beberapa jam setelah penyuntikan. Selang waktu antara penyuntikan dan stripping sangat tergantung suhu air, jika suhu air cukup hangat (30 °C), stripping dapat dilakukan 7 jam setelah penyuntikan. Sedangkan apabila suhu air cukup dingin (20 °C), selang waktu antara penyuntikan dan stripping sekitar 21 jam. Jika suhu terlalu rendah (<20 °C) atau terlalu tinggi  (>30 °C), penyuntikan hipofisa/ovaprim mungkin akan mengalami kegagalan.
Tabel. Keterkaintan Suhu dengan selisih waktu penyuntikan dan stripping
Suhu Air (°C)
Waktu (Jam)
20
21
21
19
22
15,5
23
13,5
24
12
25
11
26
10
27
9
28
8
29
7,5
30
7
Sumber:Infis Manual No 57 (1987) dalam Khairuman dan K. Amri (2008)
Pada dasarnya stripping adalah memaksa keluarnya sel telur tanpa adanya kehendak dari induk betina. Oleh karena itu, stripping harus dilakukan secara berhati-hati agar tidak menyakiti induk tersebut. Langkah-langkah untuk melakukan stripping adalah sebagai berikut:
1.      Tangkap induk betina dengan hati-hati dan pastikan bahwa induk itu tidak sampai terluka karenanya.
2.     Siapkan baskom kering dan bersih sebagai tempat untuk menampung telur yang akan dikeluarkan.
3.     Karena induk cukup licin, saat melakukan stripping, pegang induk itu dengan kain halus atau menggunakan sarung tangan.
4.     Stripping dilakukan dengan mengurut perut ikan secara lembut dan hati-hati. Arah pengurutan adalah dari perut bagian atas menuju ke anus.
5.     Telur akan keluar dari lubang kelamin induk betina. Pastikan telur tertampung pada baskom dan jangan sampai tercecer. Setelah selesai, tutup baskom dengan kain kassa atau tutup berpori lainnya. Simpan sementara sambil menunggu sperma dari induk jantan.
6.     Stripping sebaiknya dilakukan dua orang. Yang seorang memegang bagian kepala dan melakukan stripping, sementara yang lain memegang bagian ekor. Stripping dilakukan secara cepat agar induk itu tidak terlalu lama menderita.
Berbeda dengan induk betina, terhadap kebanyakan induk jantan tidak bisa dilakukan stripping karena sperma yang dapat dikeluarkan dengan cara itu sangatlah sedikit, atau bahkan tidak keluar sama sekali. Oleh karenanya, untuk mendapatkan sperma maka dilakukan dengan mengoperasi induk jantan. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
1.      Induk jantan yang telah disuntik dan akan digunakan sebagai induk dipotong kepalanya. Perutnya kemudian dibelah dengan hati-hati.
2.     Keluarkan usus ke arah samping hingga ditemukan kantong sperma yang berwarna merah jambu.
3.     Ambil kantong sperma dengan hati-hati, jangan sampai pecah.
4.     Saat hendak digunakan, belah kantong sperma sehingga sperma dapat keluar.
Pembuahan sel telur pada teknik ini dilakukan dengan langkah sebagai berikut:
1.      Siapkan baskom yang berisi telur hasil stripping.
2.     Belah kantong sperma dan keluarkan isi sperma pada baskom yang berisi telur tersebut.
3.     Agar tercampur merata, lakukan pengadukan menggunakan bulu ayam yang bersih atau kuas kecil dengan bulu yang halus. Pengadukan harus dilakukan dengan hati-hati.
4.     Sambil diaduk-aduk, tambahkan air bersih sedikit demi sedikit hingga semua telur terbuahi dengan sempurna.
5.     Biarkan selama beberapa menit hingga telur menunjukan tanda-tanda sudah terbuahi, yaitu warnanya berubah menjadi kuning bening.
6.     Telur sudah siap ditetaskan pada kolam penetasan.
5. Penetasan Telur
Telur yang sudah dibuahi segera ditebarkan pada kolam penetasan. Pada kolam penetasan ini tidak terdapat ijuk atau kakaban. Bahkan kolam dapat dibuat dari ember, baskom, atau galon air. Tidak ada persyaratan khusus untuk kolam yang akan digunakan untuk penetasan. Yang dibutuhkan hanyalah air yang bersih dengan kadar oksigen yang cukup. Keduanya dapat dipenuhi dengan memasang regulator yang dapat membersihkan air dan kemudian mengembalikannya ke kolam.
Regulator air sederhana dapat dibuat dari selang plastik (diameter 0,5 cm), ember, ijuk, krikil, pasir dan arang kelapa (jika ada). Selang plastik direkatkan pada ember, satu selang (masuk) dari bagian atas, satu selang (keluar) berada di bagian bawah. Bagian dasar ember diberi lapisan krikil, pasir, arang kelapa, dan ijuk secara berurutan. Air dari kolam akan bergerak ke sebelah atas ember, kemudian disaring dengan lapisan-lapisan krikil, pasir, arang kelapa, dan ijuk. Air yang telah tersaring kenudian dialirkan ke kolam melalui selang yang ada dibawah.
Langkah-langkah untuk memasukkan telur ke tempat penetasan adalah sebagai berikut:
1.      Masukkan telur ke dalam kolam penetasan dengan menggunakan sendok plastik secara hati-hati.
2.     Usahakan telur ditebar secara merata pada dasar kolam dan tidak saling bertumpuk.
3.     Kepadatan jumlah telur adalah sekitar 60.000-75.000 telur per meter persegi.
4.     Untuk meratakan telur pada dasar kolam dapat dilakukan dengan menggunakan bulu ayam yang bersih.
Telur akan menetas setelah 24-36 jam dimasukkan ke kolam. Kecepatan menetas tergantung pada suhu air. Bila suhu cukup hangat maka akan cepat menetas, sedangkan bila suhunya rendah maka penetasan akan memakan waktu lebih lama. Teknik pemijahan intensif mampu memberikan persentase penetasan hingga 95%.
Larva yang telah menetas dapat tetap dipelihara di kolam penetasan atau dipindahkan ke kolam lain.
6. Pemeliharaan Larva
Larva yang baru menetas harus dipelihara di dalam kolam dengan menggunakan air yang bersih dan dengan aerasi yang baik. Hal itu karena larva masih sangat rentan terhadap serangan penyakit. Regulator air sebaiknya dipasang dalam kolam pemeliharaan larva bilamana tidak ada pembaruan air. Ujung selang penyedot regulator air ditutup dengan kain kassa untuk menghindari tersedotnya larva ke dalam regulator.
Pemberian pakan terhadap larva baru dimulai pada hari ke-4, karena sampai hari ke-3 larva masih makan sisa makanan dari telur. Pakan yang sesuai dan cukup banyak tersedia adalah kutu air (Daphnia sp.) dan cacing sutra (Tubifex sp.). Pemberian pakan yang berupa pelet dapat dilakukan asalkan diremukkan terlebih dahulu. Kekuranganya, sisa pelet akan mengotori kolam sementara perkembangan larva kurang optimal. Larva dipelihara hingga menjadi anakan lele (bibit) berukuran 1-3 cm.



Laman