Senin, 04 Maret 2013

Teh Arab (Catha edulis. forsk)


Temuan narkotika jenis baru, narkotika tersebut berasal dari tanaman ghat atau khat yang banyak ditanam di ladang maupun di pekarangan. Jenis tanaman ini, diakui merupakan bahan baku pembuat narkotika jenis baru yang di konsumsi kalangan artis termasuk yang dipakai Raffi Ahmad.

Tanaman yang dalam bahasa lainnya di sebut Catha Edulis ini banyak ditemukan di Desa Tugu Selatan dan Desa Tugu Utara Kecamatan Cisarua Bogor. Kebanyakan masyarakat menanam tanaman ini secara berderet, sebagai pembatas halaman rumah atau batas tanah dengan tanah orang lain.

Tumbuhan berdaun kecil dan berwarna hijau ini banyak ditemui di pekarangan dan permukiman warga di kawasan Kecamatan Cisarua, Puncak, Bogor. Warga setempat telah menanamnya sejak 10 tahun terakhir.

Kandungan Kimia Tanaman Khat (Teh Arab)

Khat yaitu tanaman perdu Catha edulis Forsk, famili dari tanaman Celastracea. Banyak tumbuh di daerah Afrika Timur dan Arab. Daunnya mengandung alkaloida cathinone & cathine yang mempunyai konfigurasi serta efek sebagaimana amphetamine (Amphetamine adalah bahan yang digunakan dalam tablet XTC). Karena itu daun khat ini juga mempunyai efek seperti penggunaan xtc, yaitu fly, happy, energik, menjadi senang bicara, tetapi menyebabkan kecanduan.

Dalam dosis besar, Khat dapat menyebabkan gangguan di otak yaitu perubahan sistem biokimiawi otak yang mengakibatkan si pengunyah menjadi gila (psikose), dengan gelaja halusinasi pendengaran dan mengamuk.

Dengan dosis kecil menjadi happy, tetapi jika kronis pun metabolisme tubuh menjadi berubah. Tubuh tidak lagi menyerap makanan melalui usus, tetapi memecah persediaan energi dalam otot yaitu memecah lemak dan glikogen. Karena itu si pengunyah menjadi kurus kerempeng karena anoreksia dan mengalami kondisi malnutrisi yang irreversible. Akibat lanjutnya pengerasan hepar dan akhirnya menjadi kanker.
Daun Khat mengandung astringent dan aromatik, mempunyai bau khas yang rada apek. Harus dikunyah segar-segar, jusnya ditelan, dan sepahnya dibuang atau ditelan. Dalam waktu tidak lama ia akan merasakan efeknya. Namun pada keesokan harinya akan terjadi efek berkebalikan (withdrawal) yaitu mual, lesu, lemah, pusing, karena kurang tidur, resah, yang akhirnya juga menyebabkan kesulitan tidur. Hal ini yang menyebabkan si pengguna terus menerus membutuhkannya lagi dan menjadi ketagihan, yang dosisnya makin hari makin besar.

Katinon (Cathinone) menjadi pembicaraan setelah Badan Narkotika Nasional (BNN) menemukan zat ini dikonsumsi oleh beberapa orang yang tertangkap di rumah salah satu publik figur minggu lalu (27/1). Yang dikonsumsinya adalah derivat dari cathinone, yakni 3,4-methylenedioxy-N-methylcathinone. Zat sintetis itu juga dikenal sebagai methylone. Cathinone, S(-)-alpha-aminopropiophenone, merupakan zat yang konfigurasi kimia dan efeknya mirip dengan amfetamin. Cathinone adalah nama bahan aktif berwujud kristal yang bisa diekstrak dari tumbuhan asli Afrika yang bernama Latin Catha edulis dengan sinonim Catha forskalii, Catha glauca, Celestrus edulis, dan Methyscophyllum glaucum. Tumbuhan ini memiliki banyak nama lokal, diantaranya menggambarkan asal kata dari mana nama Latinnya dibuat yaitu: cat, catha, ciat, khat, kaad, dan kafta. 

Secara alami cathinone terkandung dalam khat (Catha edulis Forsk), tumbuhan semak yang banyak terdapat di Afrika timur dan tengah serta sebagian Jazirah Arabia. Daun khat sejak dulu dikonsumsi dengan cara dikunyah, dibuat jus, atau diseduh seperti teh oleh penduduk di wilayah itu. Daun kath segar mengandung katinona lebih banyak dibandingkan dengan daun kath yang dikeringkan.
Adapun cathinone sintetis, sebagaimana disebut dalam situs European Monitoring Centre for Drugs and Drug Addiction (EMCDDA), berbentuk serbuk kristal putih atau kecoklatan, kadang-kadang dikemas dalam kapsul. Zat itu juga ditemui dalam bentuk tablet sebagai pengganti pil ekstasi. Cara penggunaan biasanya dihirup, ditelan, atau disuntikkan setelah dicampur air.

Tidak sulit menduga mengapa Catha edulis dijuluki flower of paradise (bunga surga). Tumbuhan ini sudah lama diketahui bisa menimbulkan halusinasi bila dikonsumsi. Dalam keadaan proses halusinasi seseorang bisa merasakan beragam sensasi yang sulit dideskripsikan.

Karena khat mengandung senyawa ephedrine-like [Amfetamin]. Rupanya itu untuk menghasilkan eksitasi, menghalau tidur, dan meningkatkan komunikasi. Itu digunakan sebagai stimulan untuk menghilangkan rasa lapar dan kelelahan.

Penggunaan Khat  (Konsumsi Teh Arab)

Pada jaman Mesir Kuno, khat atau teh arab, dianggap sebagai menu para dewa. Dengan mengunyah-ngunyah khat, manusia juga bisa menjadi dewa: tahan lapar, tahan haus, tahan capek, dan merasa sangat bersemangat (euforia). Dengan mengonsumsi khat, nafsu seks juga menjauh, karena gairah seks (libido) akan menurun.

Secara terbatas tanaman teh arab sudah mulai dikenal oleh masyarakat Indonesia. Ini terjadi karena adanya intensitas arus informasi, juga sarana transportasi, yang memungkinkan masyarakat kita berkunjung ke Yaman, dan Somalia. Dua negara ini dikenal sebagai penghasil sekaligus pengguna teh arab terbesar di dunia. Teh arab juga disebut Abyssinian Tea, African Salad, khat (قات), qat, qaat, quat, gat, jaad, chat, chad, chaad, jimma, dan miraa (Catha edulis).

Biasanya Khat dikonsumsi saat kumpul-kumpul, ditambah minum minuman keras, selain melawan rasa pahit daun, juga efeknya lebih kuat. Khat dikunyah berjam-jam, di dalam mulut dengan pipi menggembung oleh bundelan kunyahan Khat. 

Daun khat juga bisa didapatkan dalam bentuk teh, sering disebut-sebut sebagai teh Arab yang mempunyai khasiat meningkatkan gairah seks. Padahal penggunaan Khat jangka panjang akan merusak sistem syaraf yang mengatur sistem reproduksi dan masalah impotensia.

Meskipun disebut sebagai teh arab, khat dikonsumsi bukan seperti teh, melainkan seperti orang makan sirih. Pucuk khat dikunyah-kunyah, tanpa bahan campuran apa pun, lalu ditahan dalam mulut selama sekitar 2,5 jam, sebelum “ampasnya” dibuang. Efek stimulan dari mengunyah (chewing) pucuk khat, disebabkan oleh adanya kandungan zat katin (cathine), yakni alkaloid jenis phenethylamine, dalam pucuk tanaman. Cathine dalam pucuk daun khat dikategorikan sebagai psikotropika (zat narkoba), hingga di beberapa negara,  termasuk di Arab Saudi, penanaman dan penggunaan tanaman ini dilarang. Beberapa negara mengijinkan budi daya dan penggunaan khat, dengan pengawasan ketat, dibawah supervisi World Health Organization (WHO).
Daun Khat sekarang tengah melanda Eropa dengan pemasok orang-orang Afrika dan Arab. Tetapi Khat ini belum dimasukkan ke dalam daftar undang-undang obat keras atau narkoba, karena masih dianggap tidak membahayakan umum (dikonsumsi oleh kelompok kecil tertentu, digunakan tidak dimuka umum, masih dalam keadaan segar/alami, untuk mendapatkan efek berbahaya dibutuhkan sejumlah yang relatif besar). Khat segar masuk ke Eropa melalui angkutan penerbangan, dan masuk dalam daftar sayuran. 

Penjualan khat secara hukum dilegalkan di beberapa negara, namun juga ilegal di beberapa negara lainnya. Cathinone sintetik juga sering digunakan sebagai bahan utama yang digunakan sebagai campuran dalam mengkonsumsi obat-obatan terlarang, misalnya 'bath salts' di Amerika Serikat. 

Menurut Drug Enforcement Administration (DEA) yang merilis Controlled Substances Act, Cathinone pun digolongkan sebagai substansi kelas I. Substansi kelas I adalah obat-obatan beserta kandungan di dalamnya dapat menimbulkan dampak serius terhadap kesehatan dan tidak digunakan untuk kebutuhan pengobatan. Menurut DEA cathinone dapat menimbulkan hilangnya nafsu makan, kecemasan, iritasi, gangguan tidur, halusinasi, dan kepanikan.

Adapun, pemakai berat cathinone bisa mengalami gangguan mental. Di Indonesia, Undang-undang No.35/2009 tentang Narkotika menyatakan cathinone sebagai narkotika golongan I atau narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi sangat tinggi mengakibatkan ketergantungan.

Laporan mengenai keracunan dan bahaya bagi kesehatan akibat penggunaan cathinone sintetis menyebabkan zat tersebut menjadi isu kesehatan masyarakat dan keamanan yang serius di Amerika Serikat.

Dalam situs National Institute on Drug Abuse dilaporkan, efek cathinone mirip amfetamin dan kokain. Zat itu merangsang peningkatan kadar neurotransmitter (zat pengantar impuls saraf) dopamin yang menimbulkan rasa gembira dan meningkatkan tenaga. Efek lain adalah peningkatan kadar norepinefrin meningkatkan detak jantung dan tekanan darah. Namun, pengguna bisa mengalami halusinasi akibat peningkatan kadar serotonin. Akibat buruk lain adalah dehidrasi, kerusakan jaringan otot, dan gagal ginjal yang berujung pada kematian. (sz)

Sabtu, 23 Februari 2013

PENYAMBUNGAN (GRAFTING) PADA ADENIUM



Adenium tergolong ke dalam tanaman dikotil atau tanaman dengan biji berkeping dua, akar dan batangnya  memiliki kambium, batang bercabang-cabang, berakar tunggang, bagian-bagian bunga berjumlah  5 (pentamer).

Semua sel dalam batang adenium adalah sel hidup atau meristematik, dengan kandungan air yang sangat besar, yang juga sebagai cadangan untuk kehidupannya. Itulah mengapa, tanaman adenium mampu tumbuh di daerah yang sangat kering. Adenium berasal dari daerah gurun pasir yang kering, dari daratan afrika. Sebutannya disana adalah Mawar Padang Pasir. Karena berasal dari daerah kering, tanaman ini lebih menyukai kondisi media yang kering dibanding terlalu basah.
Akar adenium yang membesar seperti umbi adalah tempat menyimpan air. Akar yang membesar ini bila dimunculkan diatas tanah akan membentuk kesan unik seperti bonsai. Sedangkan batangnya lunak tidak berkayu, namun dapat membesar. 
Tunas-tunas samping dapat tumbuh dari mata tunas pada batang atau bekas daun yang gugur. Mata tunas samping tersebut akan berfungsi (tumbuh) apabila pucuk atas tanaman dipotong. Hal inilah yang dilakukan orang pada saat mempruning atau memangkas, untuk mendapatkan cabang dan daun baru serta agar bunga yang akan muncul nantinya lebih serempak.

PERBANYAKAN ADENIUM
Adenium dapat diperbanyak dengan biji (biasa disebut sebagai pembiakan secara kawin), dan perbanyakan secara tidak kawin seperti setek, sambung/grafting, cangkok dan okulasi.
Biji adalah hasil penyerbukan antara bunga jantan dengan bunga betina, yang selanjutnya menghasilkan buah dan biji. Dalam satu buah yang normal (buah adenium biasa disebut sebagai seedpod), akan terdapat antara 50 sampai 100 biji adenium. Setelah matang, biji dapat ditanam untuk menghasilkan tanaman baru. Pembiakan dari biji, akan menghasilkan tanaman dengan umbi dan pangkal batang cepat besar, namun pembiakan ini menghasilkan anakan yang memiliki karakter/sifat yang lain dari induknya, sehingga tidak bisa diharapkan untuk mendapatkan keturunan yang identik.
Pembiakan tanpa kawin (setek, grafting, cangkok dan okulasi), adalah cara pembiakan yang akan menghasilkan tanaman yang sama persis secara genetik dengan induknya. Pembiakan dengan cara tersebut, biasa dilakukan orang untuk memperbanyak suatu varietas secara mudah dan cepat. Setek dan cangkok, adalah perbanyakan untuk secepatnya mendapatkan tanaman dengan tajuk yang lebat, tetapi cara ini tidak cepat menghasilkan caudex atau bonggol yang besar dan indah. Untuk menghasilkan tanaman adenium dengan caudex atau bonggol yang besar dan indah, serta menghasilkan tajuk yang identik dengan induknya, maka ditempuh dua cara perbanyakan, yaitu perbanyakan dari biji untuk menghasilkan tanaman dengan bonggol yang indah, dan selanjutnya dilakukan cara grafting untuk mendapatkan tajuk tanaman yang identik sifat atau karakteristiknya dengan induk yang dikehendaki.
Biji disemai untuk menghasilkan tanaman yang berbonggol indah. Setelah berumur 8-12 bulan, tanaman sudah siap untuk disambung batang atasnya. Sebelum memulai grafting, dipersiapkan alat dan bahan sebagai berikut:
1. Pisau untuk menggrafting. Gunakan pisau yang tajam dan tipis, dengan panjang pisau 8-12 cm. Pisau yang paling mudah dicari adalah pisau cutter, namun pisau ini cepat tumpul, dan hanya bisa digunakan beberapa kali saja, karena tidak bisa diasah atau ditajamkan kembali. Pisau yang lazim digunakan untuk menggrafting adenium adalah jenis pisau stainless, misalnya merek victorinoc.
2. Plastik untuk mengikat bidang sambungan/grafting. Bisa menggunakan selotip transparan, atau menggunakan plastik PE yang tipis, dan diiris selebar 2 cm.
3. Plastik penutup bidang sambung/grafting, bisa menggunakan plastik PE dengan ukuran yang disesuaikan dengan besar kecilnya bidang sambung. Untuk penyambungan dengan batang bawah berdiameter 1-2 cm, gunakan plastik PE ukuran 8x12 cm.
4. Label, tali label dan pensil. Label digunakan untuk menuliskan informasi tentang jenis/varietas yang disambung. Bisa ditambahkan tentang data tanggal penyambungan, untuk memberikan kepastian kapan plastik penutup hasil penyambungan boleh dibuka.
5. Tanaman yang akan digrafting. Untuk batang bawah, pilih tanaman yang sehat, ditandai dengan bonggol dan batang yang keras, berwarna hijau tua, dan bidang grafting memiliki ukuran diameter batang lebih besar atau sama dengan entress atau batang atas. Bila dipotong, batang berwarna putih tidak ada bintik coklat atau hitam, dan bergetah dengan warna getah bening ataupun putih. Sedangkan batang atas, pilih yang sehat, tua (ditandai dengan warna hijau tua, keras, ukuran umumnya berdiameter minimal 0,5 cm). Pilih batang yang akan disambung yang memenuhi sarat yang baik tanaman sehat tidak ada penyakit  dan umur batang bawah berumur 1 bulan

Beberapa cara sambung/grafting adalah sebagai berikut:
A. Penyambungan (Grafting) Bentuk V
Grafting V adalah cara grafting yang paling aman, karena bidang perekatan antara batang atas dan batang bawah cukup besar, dan kedua batang dengan mudah dapat menyatu dan tidak mudah lepas. Tata cara pengerjaannya adalah sebagai berikut:
1. Persiapkan semua alat dan bahan untuk grafting
2. Entress atau batang atas, daunnya dibuang, disisakan pangkal tangkai daun sekitar 1 milimeter dari batang.
3. Potong batang bawah secara horisontal, lurus, dan usahakan pemotongan sekali tebas langsung putus.
4. Buatlah sayatan berbentuk huruf V pada batang bawah dimulai dari tempat hasil potongan horisontal.
5. Buat potongan huruf V terbalik untuk entrees atau batang atas, kemudian potong bagian atasnya sehingga entress berukuran panjang 2-3 cm, dan terdapat beberapa ruas.
6. Rekatkan batang atas pada batang bawah mengikuti alur huruf V. Pastikan bahwa kedua potongan huruf V sebidang sehingga ketika direkatkan, tidak ada rongga.
7. Ikat bidang sambungan dengan plastik pengikat, dan ditutup dengan plastik penutup.
8. Kalungkan label yang berisi informasi nama jenis entrees, serta tanggal pelaksanaan penyambungan. Selanjutnya letakkan pada rak yang sesuai, ditempat terbuka, dan lakukan penyiraman pada media tanam 1-2 hari sekali.
9. 2 (dua) minggu setelah penyambungan, buka plastik penutup. Sedangkan plastik pengikat masih dibiarkan menempel. Plastik pengikat dapat dibuka setelah 3-4 bulan. Keberhasilan ditandai dengan munculnya tunas dari ruas batang atas, sekitar 2-3 milimeter saat penyambungan telah 2 minggu. Selanjutnya tanaman yang sehat, akan berbunga setelah 2-3 bulan dari saat penyambungan.
B. Penyambungan (Grafting) Sisip

Sambung sisip biasa dilakukan apabila batang bawah yang akan disambung, ukurannya lebih dari 2 x lipat diameternya dibandingkan dengan batang atas. Bisa saja jika terjadi hal seperti itu, batang bawah dibuat sayatan bentuk V seperti biasanya, tetapi batang atas yang dimasukkan di sayatan tersebut bisa dua atau tiga batang, yaitu di pinggir kiri, tengah dan di kanan. Hal itu bisa dilakukan dengan mudah pada penyambungan adenium, karena adenium tidak memiliki kambium dan semua sel adalah sel hidup atau meristematik, sehingga semua bidang dapat digunakan untuk areal sambungan, tidak seperti tanaman berkayu, yang jika disambung, maka kambium harus ketemu dengan kambium.
Namun demikian, sambung dengan huruf V dengan beberapa entrees yang dimasukkan pada satu batang bawah, akan mengurangi keindahan hasil akhirnya. Oleh karena itu, apabila batang bawah berukuran jauh lebih besar dibanding batang atas atau entrees, maka biasa dilakukan dengan cara sambung sisip, yaitu batang bawah dibuat piramida terbalik dari bagian pinggir batang hingga sesuai ketebalan batang atas. Satu batang bawah bisa disisipi hingga lebih dari dua entress di seputar lingkar luar batangnya. 
Sambung sisip akan menghasilkan tanaman yang lebih indah karena seakan-akan batang bawah mengeluarkan cabang di bekas potongan batang.
C. Penyambungan (Grafting) Sisip Satu Mata
Penyambungan satu mata, adalah salah satu cara untuk efisiensi, yaitu untuk memperbanyak tanaman secara cepat, dengan keterbatasan entrees yang dimiliki. Batang bawah yang akan digunakan, tetap harus dipotong batangnya, untuk menghindari dominansi apikal atau dominannya pertumbuhan batang utama. Urutan kerjanya adalah sebagai berikut:
1. Siapkan batang atas. Usahakan batang atas tetap memiliki daun (daun tidak dipotong). Kecuali jika mata tunas memang sudah tidak berdaun lagi.
2. Potong root stock atau batang bawah, kira-kira 2-3 cm diatas bonggolnya.
3. Kupas pinggir batang bawah, membentuk angka 7 terbalik.
4. Potong batang atas satu mata (bersama daunnya), Sesuai bidang angka 7 terbalik di batang bawah
5. Rekatkan entrees pada batang bawah, dan ikat dengan tali plastik. Pastikan mata tunas tidak ikut terikat. Selanjutnya bidang penyambungan ditutup plastik, dan diberi label mengenai varietas dan tanggal penyambungan.
6. Dua minggu sejak proses, tunas mulai muncul dari entrees. Jika muncul tunas dari batang bawah, segera dibuang sebelum tumbuh membesar, karena akan mengurangi kecepatan tumbuh tunas dari entrees.
D. Penyambungan (Grafting) Bentuk Silinder (Cincin) Ala Vietnam
Penyambungan ala vietnam, dinamakan demikian karena teknologi tersebut mula-mula ditemukan dan biasa dilakukan oleh para petani di vietnam. Penyambungan ini adalah cara yang paling mudah untuk para pemula, karena tidak perlu mengasah kemampuan untuk memotong bentuk huruf V atau angka 7 terbalik, antara batang atas dan batang bawah secara identik, tetapi hanya memotong secara horisontal baik batang atas maupun batang bawah.
Salah satu kelemahannya adalah, cara sambung ini tidak bisa digunakan apabila batang atas terlalu kecil atau terlalu muda, serta tidak bisa dilakukan untuk entrees bagian teratas (meristem). Kaitan utamanya adalah karena untuk kasus tersebut, tidak mudah melakukan pengikatan batang atas dengan batang bawah.
Cara kerja penyambungan ala vietnam adalah sebagai berikut:
Siapkan semua perlengkapan (sama seperti cara penyambungan lainnya).
1. Potong batang bawah secara horizontal, sekitar 2-3 cm diatas bonggolnya.
2. Buat ikatan di batang bawah dengan tali plastik sebagai persiapan untuk mengikat batang atas.
3. Potong batang atas secara horizontal (sebidang batang bawah), kemudian potong pula bagian atasnya, sehingga entrees menjadi sebuah potongan silinder, dengan tinggi 1-2 cm.
4. Rekatkan silinder batang atas tersebut pada batang bawah, kemudian tali plastik yang telah terikat pada batang bawah, diikatkan pada batang atas melewati bagian atas silinder secara saling silang, dan diikatkan kembali pada batang bawah.
5. Tutup bidang penyambungan, berikan label.
6. dua minggu sejak penyambungan, tunas mulai tumbuh. Pada tahap ini, biarkan plastik ikatan tetap terikat kuat, sampai 1-2 bulan.

Rabu, 14 November 2012

PERBANYAKAN VEGETATIF


Perbanyakan vegetatif adalah pengulangan dan penggandaan jenis yang diwujudkan pada terciptanya generasi baru dimana bahan tanamnya selain biji.
Perbanyakan vegetatif dibagi menjadi 2 :
  1. Perbanyakan vegetatif alami, yaitu perbanyakan vegetatif dimana mengambil bahan tanam dari organ tubuh tanaman induk yang merupakan hasil pertumbuhan tanaman (bagian generatif) dan sifat dari keturunannya pasti sama dengan induknya.
  2. Perbanyakan vegetatif buatan (adanya campur tangan manusia), ada 2 macam, yaitu :
  • Perbanyakan vegetatif buatan dengan perbaikan sifat, yaitu okulasi, grafting, kultur jaringan.
  • Perbanyakan vegetatif tanpa perbaikan sifat, yaitu cangkok dan stek (daun, batang, akar)
Keuntungan Perbanyakan vegetatif alami :
  • dapat dipraktekkan pada tanaman yang tidak menghasilkan biji
  • sifat pohon induk diturunkan ke generasi berikutnya
  • masa juvenil relatif pendek
  • mempercepat persediaan bibit
Kelemahan Perbanyakan vegetatif alami:
  • infeksi sistemik oleh virus dapat menjalar ke semua tanaman
  • bahan tanam akan menghabiskan tempat, tidak seperti biji
  • periode penyimpanan bahan tanam pendek
  • mekanisme perbanyakan pada beberapa tanaman tidak praktis
Faktor yang mempengaruhi Perbanyakan vegetatif alami:
  • Faktor Intern :
  1. dormansi bahan tanam (dapat dipecahkan dengan pemberian kelembaban tinggi)
  2. ZPT (dapat memacu pertumbuhan akar dan tunas)
  • Faktor Ekstern:
  1. suhu (bahan tanam tidak tahan dengan suhu tinggi)
  2. kelembaban (pada awal masa tanam dibutuhkan kelembaban yang tinggi)
  3. cahaya (pada awal pertumbuhan tunas dan akar dibutuhkan cahaya yang tidak banyak, maka perlu diberi naungan)
  4. jamur dan bakteri (biasanya sangat peka terhadap keadaan yang lembab, bahan tanam yang terlukai sangat rawan terhadap serangan jamur dan bakteri sehingga menyebabkan kebusukan)
Macam-macam Perbanyakan vegetatif alami:
1. Runner atau sulur atau stolon atau geragih

Batang yang menebal dan tumbuh secara horizontal sepanjang atau tumbuh di bawah permukaan tanah dan pada interval tertentu memunculkan tunas ke permukaan tanah. Contoh: strawberry, lili paris, arbei.

 stolon strawberry


stolon lili paris
2. Corm
Pangkal batang yang membengkok dan memadat serta mengandung cadangan makanan. Pada dasarnya cormus terdapat subang tempat tumbuhnya akar sedangkan di bagian atasnya (ujung) terdapat mata tunas. Contoh: bunga dahlia, gladiol.
 umbi akar dahlia
3. Bulb (umbi lapis)
Bahan tanam yang terdiri dari suatu batang yang pipih dan pendek berbentuk cawan dikelilingi sisik yang merupakan struktur seperti daun berdaging, sisik ini menutupi tunas (titik tumbuh). Contoh: bawang, tulip.
 umbi lapis bawang merah
4. Tuber (umbi batang)

 umbi kentang
Batang yang mempunyai daging tebal yang terdapat di dalam tanah dan mengandung beberapa mata tunas. Contoh: kentang, talas.
 tanaman kentang
5. Rhizome
Akar rimpang yang memiliki mata tunas baru dan tiap mata tunas akan membengkok sebagai cadangan energi. Contohnya: jahe, kunyit, temu lawak dll.


 rhizome (rimpang) kunyit
rhizome (rimpang) temulawak
6. Anakan
Hasil pembiakan vegetatif induk yang berkembang sendiri yang tumbuh di dekat tanaman induk. Contoh: sansiviera, bambu, pisang, dll.

tunas bambu (rebung)

tunas anakan pisang 
7. Tunas adventif
Tunas adventif adalah tunas yang tumbuh tidak pada ujung batang atau ketiak daun, tetapi tumbuh pada bagian tumbuhan yang biasanya tidak bertunas, seperti pada akar dan daun. Pada tepi daun yang telah tua akan tumbuh akar dan tunas. Jika daun tersebut jatuh ke tanah, maka akan tumbuh tumbuhan baru.
Contoh: cocor bebek, sukun, cemara, dan kesemek. 

 

Macam-macam perbanyakan vegetatif buatan tanpa perbaikan sifat :
  1. Cangkok
  2. Stek

Macam-macam perbanyakan vegetatif buatan dengan perbaikan sifat:
Macam-macam grafting :


Laman